MOOC · 16 Pertemuan
ECO-CREATIF-BIZ / v1.0 / 2025

Pendidikan Bisnis
Berbasis Ekonomi Kreatif
& Model Bisnis
Berkelanjutan

Kurikulum integratif yang menggabungkan prinsip ekonomi kreatif, kerangka bisnis model inovatif, dan pendekatan keberlanjutan (sustainability) untuk melahirkan pelaku bisnis yang tidak hanya profitable — tetapi juga purposeful dan planet-conscious.

16Pertemuan
6Modul
EKEkonomi Kreatif
SDGSustainability
BMCBusiness Model Canvas
ESGESG Framework
Tipe Sesi : Teori Praktik Studio/Workshop Lapangan Pitch/Presentasi Evaluasi
I
Modul Satu
Pertemuan 01–03 · Fondasi
Ekonomi Kreatif: Peta, Sejarah & Ekosistem
Membangun pemahaman komprehensif tentang ekonomi kreatif sebagai paradigma ekonomi abad ke-21 — landasannya, subsektornya, ekosistemnya, dan posisi Indonesia di dalamnya.
01
Teori
Anatomi Ekonomi Kreatif: Dari John Howkins ke Ekraf Indonesia
Menelusuri akar konseptual ekonomi kreatif, peta subsektornya, dan posisi strategis Indonesia sebagai salah satu kekuatan kreatif terbesar dunia.
Deskripsi Materi

Pertemuan pembuka membangun fondasi konseptual kursus melalui lensa sejarah dan kebijakan. Peserta memahami bagaimana ekonomi kreatif muncul sebagai respons terhadap pergeseran dari ekonomi industri ke ekonomi berbasis pengetahuan dan kreativitas. Dari konsep asali John Howkins dalam "The Creative Economy" (2001), perkembangan Creative Industries UK, hingga Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Kemenparekraf Indonesia — peserta membangun panorama lengkap ekraf sebagai sistem.

Isi Konten
John Howkins: "Creative Economy" — definisi dan 15 sektor asal
UNCTAD Creative Economy Framework: 4 kelompok domain kreatif
17 Subsektor Ekraf Indonesia: kuliner, kriya, fashion, film, musik, games, dll.
Kontribusi Ekraf terhadap PDB Indonesia: data terkini
Peta ekosistem ekraf: SDM kreatif, ruang kreatif, institusi, pasar
Kota-kota kreatif UNESCO: Bandung, Pekalongan, Ambon dalam peta dunia
Perbandingan ekraf Korea Selatan (Hallyu), Jepang (Cool Japan), dan Indonesia
Tantangan struktural ekraf Indonesia: HAKI, akses modal, distribusi
Self-mapping: peserta mengidentifikasi posisi diri dalam ekosistem ekraf
💡 Studi Kasus: Bagaimana industri game Korea Selatan tumbuh dari nol menjadi USD 8 miliar dalam satu dekade — dan pelajaran apa yang bisa diambil industri kreatif Indonesia dari trajektori tersebut?
🎯 Capaian: Peserta mampu menjelaskan konsep ekraf dengan framework UNCTAD, mengidentifikasi posisi Indonesia dalam peta ekraf global, dan memetakan minimal 3 peluang bisnis kreatif yang relevan dengan konteks lokal mereka.
Ekraf Data DashboardUNCTAD Creative Economy ReportMiro (Peta Ekosistem)
02
TeoriLapangan
Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal: Potensi Budaya sebagai Aset Bisnis
Mengeksplorasi bagaimana kekayaan budaya lokal Indonesia — dari wayang hingga batik, dari jamu hingga arsitektur vernakular — menjadi bahan baku tak habis untuk bisnis kreatif.
Deskripsi Materi

Indonesia memiliki salah satu kekayaan budaya paling beragam di dunia — namun potensi ini belum sepenuhnya dikonversi menjadi nilai ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Pertemuan ini membahas konsep cultural capital as business asset: bagaimana identitas lokal, tradisi, dan kearifan dapat menjadi sumber diferensiasi bisnis yang autentik dan tahan kompetisi. Sekaligus mengkritisi bahaya cultural appropriation vs. cultural appreciation dalam praktik bisnis.

Isi Konten
Cultural capital (Bourdieu) sebagai aset bisnis yang terukur
Tradisi ke tren: contoh konversi wastra lokal ke fashion global
GI (Geographical Indication): melindungi dan memonetisasi produk lokal
Cultural appropriation vs. appreciation: batas etis dalam bisnis kreatif
Community-based creative enterprises: bisnis yang memajukan komunitas
Heritage tourism sebagai ekosistem bisnis kreatif
Digitalisasi warisan budaya: NFT, AR/VR, dan tantangannya
Studi kasus: Toraja, Bali, Yogyakarta — ekosistem ekraf berbasis budaya
Praktik lapangan (virtual/fisik): pemetaan aset budaya lokal
💡 Studi Kasus: "Tenun Ikat Sumba" — bagaimana komunitas penenun tradisional berhasil membangun brand global yang adil, mempertahankan teknik tradisional, dan menciptakan ekonomi inklusif bagi perempuan pedesaan?
🎯 Capaian: Peserta menghasilkan peta aset budaya lokal (minimal 5 elemen) yang berpotensi dikembangkan menjadi produk/layanan bisnis kreatif, disertai analisis singkat nilai ekonomi dan risiko etisnya.
Cultural Mapping CanvasGoogle Earth (Heritage Map)Interview Guide
03
Praktik
Pendidikan Bisnis Berbasis Ekraf: Kurikulum, Pedagogi & Kompetensi Kunci
Memahami apa yang membedakan pendidikan bisnis ekraf dari pendidikan bisnis konvensional — kompetensi apa yang harus dibangun dan bagaimana cara terbaik mengajarkannya.
Deskripsi Materi

Pendidikan bisnis konvensional dirancang untuk ekonomi industri. Ekraf membutuhkan pedagogi yang berbeda: satu yang menghargai ambiguitas kreatif, menggabungkan disiplin seni dan bisnis, dan menempatkan eksperimen sebagai metode utama belajar. Pertemuan ini membangun kesadaran tentang kompetensi unik yang dibutuhkan pelaku ekraf — mulai dari creative problem-solving hingga negosiasi lintas budaya — dan bagaimana kurikulum kursus ini dirancang untuk membangunnya.

Isi Konten
Kompetensi abad 21 untuk pelaku ekraf: 4C + Digital + Cultural literacy
Perbedaan bisnis kreatif vs. bisnis konvensional: logika nilai berbeda
T-shaped professional: kedalaman keahlian + keluasan kolaborasi
Creative entrepreneurship: antara seniman dan pengusaha
Pendekatan studio-based learning dalam pendidikan bisnis ekraf
Pedagogi experiential: learning by making, failing, iterating
Mentoring dan komunitas belajar dalam ekosistem ekraf
Self-assessment: peta kompetensi awal peserta (T-Shape Mapping)
🎯 Capaian: Peserta mampu membuat T-Shape Competency Map pribadi, mengidentifikasi 3 gap kompetensi yang ingin dipenuhi dalam kursus, dan mengartikulasikan pendekatan belajar yang paling efektif untuk mereka sebagai pelaku ekraf.
T-Shape CanvasCompetency Self-AssessmentPadlet (Learning Goals)
II
Modul Dua
Pertemuan 04–06 · Kreasi
Kreativitas, Inovasi & Pengembangan Produk Kreatif
Membangun kapasitas berpikir kreatif secara sistematis, mengembangkan produk dan layanan berbasis nilai kreatif, serta melindungi karya melalui kekayaan intelektual.
04
Studio/Workshop
Berpikir Kreatif sebagai Kompetensi Bisnis: Metodologi & Latihan
Kreativitas bukan bakat ajaib — ia adalah keterampilan yang dapat dilatih. Workshop intensif untuk mengembangkan dan memperluas kapasitas berpikir kreatif dalam konteks bisnis ekraf.
Deskripsi Materi

Pertemuan ini adalah studio kreatif penuh: peserta menjalani serangkaian latihan terstruktur untuk mengaktifkan, meregangkan, dan mengelola kreativitas mereka sebagai aset bisnis. Dari neurosains kreativitas (default mode network, incubation), hingga teknik-teknik ideasi yang teruji — SCAMPER, oblique strategies, lateral thinking (de Bono), dan constraint-based creativity — semua dikemas dalam format workshop yang energik dan aplikatif.

Isi Konten
Neurosains kreativitas: default mode network, incubation, insight moment
Divergent thinking vs. convergent thinking: kapan menggunakan mana
SCAMPER: Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put, Eliminate, Reverse
Lateral thinking de Bono: provokasi dan pergeseran pola pikir
Constraint-based creativity: keterbatasan sebagai katalis inovasi
Random stimulus dan oblique strategies dalam ideasi produk
Membangun personal creative practice: rutinitas kreator produktif
Studio session: 3 challenge ideasi bertingkat (15 min masing-masing)
🔧 Workshop Output: Setiap peserta menghasilkan minimal 10 ide produk/layanan bisnis kreatif menggunakan minimal 3 teknik berbeda, lalu menyaring 3 ide terbaik menggunakan kriteria yang disepakati kelompok.
🎯 Capaian: Peserta menjalani pengalaman langsung 3 teknik ideasi, menghasilkan bank ide personal berisi 10+ konsep, dan mendemonstrasikan kemampuan memilih ide dengan kriteria yang terstruktur.
SCAMPER TemplateMiro (Ideation Board)Timer (Sprint Ideasi)
05
PraktikStudio/Workshop
Pengembangan Produk & Layanan Kreatif: Dari Ide ke Prototipe Pasar
Metodologi pengembangan produk yang menggabungkan pendekatan design thinking, lean startup, dan value proposition design untuk bisnis di sektor ekonomi kreatif.
Deskripsi Materi

Produk kreatif yang hebat lahir dari riset pengguna yang dalam dan iterasi yang cepat. Pertemuan ini memandu peserta membangun produk/layanan dari ide terbaik mereka menggunakan Value Proposition Canvas (Osterwalder) untuk memastikan produk benar-benar menjawab kebutuhan nyata — bukan sekadar ekspresi kreator. Peserta membangun prototipe rendah fidelitas dan mengujinya dengan calon pengguna nyata dalam sesi yang sama.

Isi Konten
Value Proposition Canvas: customer profile vs. value map
Jobs-to-be-Done: apa yang sebenarnya dibeli pelanggan?
Pain relievers dan gain creators: peta nilai yang presisi
Riset pengguna cepat: guerrilla research dan minimum viable research
Prototyping cepat untuk produk kreatif: physical, digital, service blueprint
Product-market fit dalam konteks ekraf: mengukur resonansi
Iteration cycle: build-measure-learn untuk bisnis kreatif
Workshop: VPC + prototipe untuk ide produk pilihan
🎯 Capaian: Tiap peserta/kelompok memiliki Value Proposition Canvas terisi lengkap untuk 1 produk kreatif, prototipe rendah fidelitas yang telah diuji ke minimal 2 calon pengguna, dan iteration log pertama mereka.
Value Proposition CanvasFigma / Canva PrototypeNotion (Iteration Log)
06
TeoriPraktik
Kekayaan Intelektual sebagai Aset Strategis Bisnis Kreatif
Memahami dan memanfaatkan HAKI — hak cipta, merek, paten, desain industri — bukan sebagai kewajiban hukum, tetapi sebagai instrumen strategis untuk membangun dan melindungi nilai bisnis kreatif.
Deskripsi Materi

Di ekonomi kreatif, kekayaan intelektual adalah balance sheet yang tak kasat mata. Pertemuan ini membangun pemahaman praktis tentang sistem HAKI Indonesia — bukan teori hukum kering, melainkan strategi bisnis: bagaimana melindungi ide dan karya, bagaimana memonetisasi aset intelektual melalui lisensi, dan bagaimana membangun portofolio IP yang menjadi moat kompetitif bisnis kreatif Anda.

Isi Konten
Lanskap HAKI Indonesia: UU Hak Cipta, Merek, Paten, Desain Industri
Hak cipta otomatis vs. pendaftaran: kapan dan mengapa mendaftar?
Merek sebagai aset strategis: branding dan trademark strategy
Lisensi dan royalti: model monetisasi aset intelektual
Indikasi Geografis (IG): melindungi produk kreatif lokal
Open source dan Creative Commons: strategi berbagi yang cerdas
IP audit: memetakan dan menilai aset intelektual bisnis
Praktik: mendaftarkan merek di e-HAKI DJKI secara live
🎯 Capaian: Peserta mampu melakukan IP audit sederhana untuk bisnis kreatif mereka, memahami prosedur pendaftaran merek dan hak cipta, dan merancang strategi perlindungan HAKI yang proporsional dengan skala bisnis.
e-HAKI DJKIIP Audit TemplateCreative Commons License Chooser
III
Modul Tiga
Pertemuan 07–09 · Model Bisnis
Merancang Model Bisnis Inovatif untuk Ekraf
Menggunakan kerangka Business Model Canvas, Platform Business Model, dan model-model inovatif untuk merancang struktur bisnis ekraf yang koheren, skalabel, dan adaptif.
07
TeoriStudio/Workshop
Business Model Canvas untuk Bisnis Kreatif: Arsitektur Nilai yang Koheren
Menguasai BMC sebagai bahasa bersama untuk merancang, menganalisis, dan mengkomunikasikan model bisnis ekraf yang kompleks secara visual dan terstruktur.
Deskripsi Materi

Business Model Canvas (Osterwalder & Pigneur) adalah alat yang tampak sederhana namun sangat dalam. Pertemuan ini bukan sekadar pengenalan BMC — melainkan workshop intensif di mana peserta membangun, mengkritisi, dan mempertahankan model bisnis kreatif mereka sendiri. Dengan menganalisis 20+ BMC bisnis kreatif terkemuka (Spotify, Etsy, Tokopedia, Gojek, Batik Keris, Netflix), peserta membangun intuisi tentang pola model bisnis yang berhasil di konteks ekraf.

Isi Konten
9 blok BMC: customer segments, value propositions, channels, relationships, revenue, key resources, activities, partnerships, cost
BMC untuk bisnis kreatif: keunikan blok "key resources" (kreativitas, brand, network)
Revenue model kreatif: subscription, licensing, freemium, premium, community
Analisis BMC Spotify: dua customer segments, nilai berbeda, biaya struktural
Analisis BMC Etsy: marketplace kreatif dan ekosistem kreator
Fit test: apakah semua blok BMC koheren dan saling menguatkan?
Kelemahan umum BMC bisnis kreatif Indonesia: pola yang berulang
Workshop: membangun BMC bisnis kreatif masing-masing
💡 Analisis Mendalam: Dekonstruksi BMC Gojek — bagaimana super-app ini mengelola ekosistem driver, merchant, konsumen, dan mitra secara simultan dalam satu model bisnis multi-sided yang terintegrasi.
🎯 Capaian: Tiap peserta/kelompok memiliki BMC terisi lengkap dan tervalidasi untuk bisnis kreatif mereka, mampu menjelaskan logika setiap blok dan keterkaitan antar blok secara koheren.
Strategyzer BMC OnlineMiro BMC TemplateCanva (Visual BMC)
08
TeoriPraktik
Platform & Ekosistem Bisnis: Model Bisnis Berbasis Jaringan untuk Ekraf
Memahami logika platform economy, network effects, dan bagaimana bisnis kreatif dapat membangun atau berpartisipasi dalam ekosistem platform yang menguntungkan.
Deskripsi Materi

Perekonomian digital ditopang oleh logika platform yang fundamentally berbeda dari bisnis pipeline tradisional. Pertemuan ini mengeksplorasi bagaimana bisnis kreatif dapat memanfaatkan platform economy — baik sebagai kreator di atas platform yang ada, maupun sebagai pengembang platform kreatif sendiri. Fokus khusus pada creator economy: ekosistem baru di mana individu dan komunitas kecil dapat membangun bisnis berbasis audiens.

Isi Konten
Pipeline vs. platform business: perbedaan fundamental penciptaan nilai
Network effects: same-side dan cross-side, linier vs. eksponensial
Creator economy: YouTube, Patreon, Substack, Tiktok Shop sebagai model
Strategi monetisasi kreator: direct, indirect, hybrid, community-funded
Building audience vs. building community: perbedaan strategis
Marketplace ekraf lokal: Tokopedia, Shopee, Karya Kreatif Indonesia
Membangun mini-platform: aggregasi kreator lokal sebagai peluang bisnis
Kasus: bagaimana konten kreator Indonesia membangun bisnis >Rp1 miliar/tahun
💡 Studi Kasus: "Ria Ricis ke Rp100 Miliar" — deconstruct bagaimana seorang kreator konten membangun multi-revenue stream dari satu personal brand: AdSense, brand deal, merchandise, buku, film, dan community monetization.
🎯 Capaian: Peserta mampu menganalisis 2 platform ekraf menggunakan framework network effects, merancang strategi monetisasi multi-channel untuk bisnis/personal brand kreatif mereka, dan mengidentifikasi 1 peluang platform yang belum terlayani di niche mereka.
09
EvaluasiPitch
Evaluasi Tengah Semester — Business Model Pitch: Defend Your Canvas
Presentasi dan pembelaan Business Model Canvas bisnis kreatif di hadapan panel — menguji kohesi model bisnis, logika nilai, dan kesiapan menuju tahap keberlanjutan.
Deskripsi Materi

Checkpoint tengah semester: setiap peserta/kelompok mempresentasikan model bisnis kreatif mereka dalam format "Defend Your Canvas" — 8 menit presentasi + 7 menit pertanyaan kritis dari panel. Panel terdiri dari fasilitator, sesama peserta, dan jika memungkinkan 1 praktisi ekraf yang diundang. Fokus evaluasi adalah pada kohesi internal BMC, kejelasan value proposition, dan kemampuan peserta merespons pertanyaan kritis secara argumentatif.

Komponen Evaluasi
Kelengkapan BMC (20%): semua 9 blok terisi dengan substansi yang nyata
Kohesi Internal (25%): apakah semua blok saling mendukung secara logis?
Value Proposition Clarity (20%): apakah nilai yang ditawarkan jelas dan terdiferensiasi?
Validasi Pasar (20%): bukti bahwa model ini didukung data/riset pengguna
Presentasi & Respons Q&A (15%): kejelasan komunikasi dan kemampuan argumentasi
🎤 Format "Defend Your Canvas": Slide deck maksimal 10 slide. Wajib ada: 1 slide BMC visual, 1 slide customer insight, 1 slide revenue logic. Panel dipersilakan interupsi untuk klarifikasi kapan saja.
🎯 Capaian: Peserta memiliki BMC yang telah melalui pressure test, menerima umpan balik kritis yang terdokumentasi, dan siap mengintegrasikan dimensi keberlanjutan ke dalam model bisnis di paruh kedua kursus.
IV
Modul Empat
Pertemuan 10–12 · Keberlanjutan
Model Bisnis Berkelanjutan: Triple Bottom Line, ESG & Circular Economy
Mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam inti model bisnis — bukan sebagai CSR tambahan, melainkan sebagai strategi bisnis jangka panjang yang menguntungkan sekaligus bertanggung jawab.
10
Teori
Kerangka Keberlanjutan Bisnis: TBL, SDGs, ESG & B Corp
Membangun pemahaman komprehensif tentang kerangka-kerangka keberlanjutan yang relevan untuk bisnis kreatif dan bagaimana menggunakannya sebagai panduan strategi, bukan sekadar label.
Deskripsi Materi

Keberlanjutan telah bergerak dari pinggiran ke inti strategi bisnis. Pertemuan ini membangun literasi keberlanjutan bisnis yang kritis: dari Triple Bottom Line (People-Planet-Profit) Elkington, 17 SDGs PBB, framework ESG (Environmental, Social, Governance), hingga sertifikasi B Corporation. Peserta belajar membaca tren pasar yang menunjukkan bahwa bisnis berkelanjutan bukan sekadar etika — ia adalah keunggulan kompetitif yang semakin krusial.

Isi Konten
Triple Bottom Line (TBL): People, Planet, Profit — Elkington 1994
17 SDGs: memetakan bisnis kreatif ke tujuan pembangunan global
ESG framework: Environmental, Social, Governance sebagai metrik investor
B Corporation: sertifikasi bisnis berdampak dan manfaatnya
Greenwashing vs. genuine sustainability: cara membedakan
ROI keberlanjutan: data investasi ESG outperform pasar jangka panjang
Regulasi keberlanjutan global yang berdampak pada ekspor ekraf Indonesia
Peta bisnis ekraf Indonesia yang telah mengadopsi prinsip keberlanjutan
🌱 Sustainability Business Case: Patagonia — bagaimana komitmen lingkungan bukan mengurangi profit, melainkan membangun loyalitas yang luar biasa dan valuasi brand yang melampaui kompetitor konvensional.
🎯 Capaian: Peserta mampu memetakan bisnis kreatif mereka ke minimal 3 SDGs yang relevan, melakukan self-assessment ESG awal, dan mengidentifikasi 2-3 area keberlanjutan prioritas yang akan diintegrasikan ke model bisnis.
SDGs Compass ToolB Impact AssessmentESG Self-Assessment Template
11
Studio/WorkshopPraktik
Circular Economy & Regenerative Business untuk Ekraf
Mendesain ulang model bisnis kreatif dengan prinsip circular economy — dari take-make-dispose menuju reduce-reuse-regenerate — sebagai strategi bisnis yang efisien dan berdampak.
Deskripsi Materi

Ekonomi linear (ambil-buat-buang) adalah akar krisis lingkungan yang juga menjadi ancaman bisnis jangka panjang. Circular Economy (Ellen MacArthur Foundation) menawarkan alternatif yang bukan hanya etis, tetapi juga lebih efisien secara ekonomi. Pertemuan ini mengaplikasikan prinsip circular economy ke konteks bisnis ekraf secara konkret: desain produk yang dapat diperbaiki, material biologis yang dapat terurai, model take-back, dan business model berbasis layanan (product-as-a-service).

Isi Konten
Linear vs. circular economy: take-make-dispose vs. design-use-restore
Ellen MacArthur Foundation butterfly model: biological & technical cycles
Circular design principles untuk produk kreatif: modularity, durability, repairability
Product-as-a-Service (PaaS): menjual fungsi, bukan produk
Take-back programs dan closed-loop supply chain untuk ekraf
Upcycling dan downcycling: hierarki nilai material
Regenerative business: bisnis yang memulihkan ekosistem alami dan sosial
Workshop: re-design 1 produk/layanan menjadi circular
🌱 Workshop Output: Circular Design Sprint — peserta mengambil 1 produk kreatif mereka dan mendesain ulang lifecycle-nya menggunakan circular economy canvas: identifikasi titik waste, rancang loop penutup, hitung potensi efisiensi biaya.
🎯 Capaian: Peserta menghasilkan Circular Business Model Canvas untuk 1 produk/layanan kreatif, mengidentifikasi minimal 3 intervensi circular yang konkret, dan memproyeksikan dampak ekonomi dan lingkungannya.
Circular Economy CanvasMaterial Flow AnalysisLife Cycle Assessment Tool
12
LapanganPraktik
Social Enterprise & Impact Business: Bisnis Kreatif sebagai Mesin Perubahan Sosial
Mengeksplorasi model-model bisnis yang menempatkan dampak sosial dan lingkungan sebagai tujuan inti, bukan samping — dan bagaimana mengukur, mengkomunikasikan, serta menskalakan dampak tersebut.
Deskripsi Materi

Social enterprise dan impact business adalah yang tumbuh paling cepat dalam ekosistem ekraf global. Pertemuan ini mengeksplorasi spektrum model bisnis berdampak — dari hybrid nonprofit-forprofit, social enterprise murni, hingga impact investing — dan bagaimana bisnis kreatif Indonesia dapat menggunakan model ini untuk menjawab masalah sosial nyata sekaligus membangun bisnis yang viable dan skalabel. Kunjungan virtual/fisik ke 2 social enterprise ekraf Indonesia.

Isi Konten
Spektrum bisnis berdampak: filantropi → CSR → social enterprise → impact business → mainstream
Model social enterprise: Grameen Bank, Tokopedia (inklusivitas UMKM), Warung Pintar
Theory of Change: menghubungkan aktivitas bisnis ke dampak sosial
Social Return on Investment (SROI): mengukur nilai sosial yang tercipta
Impact measurement: output, outcome, impact — perbedaan dan cara mengukur
Pendanaan social enterprise: impact investor, blended finance, crowdfunding sosial
Community ownership: kooperatif dan kepemilikan bersama dalam ekraf
Praktik lapangan: kunjungan (virtual/fisik) 2 social enterprise ekraf
💡 Studi Kasus Indonesia: "Javara Indigenous Indonesia" — bagaimana bisnis yang menghubungkan petani kecil dengan pasar premium global membangun rantai nilai yang adil, melestarikan keanekaragaman hayati lokal, dan tetap profitable?
🎯 Capaian: Peserta mampu membangun Theory of Change untuk dimensi sosial bisnis kreatif mereka, menghitung SROI awal, dan merancang minimal 1 mekanisme dampak sosial yang terintegrasikan ke model bisnis.
V
Modul Lima
Pertemuan 13–14 · Pertumbuhan
Strategi Pertumbuhan, Pendanaan & Ekspansi Bisnis Kreatif
Membangun strategi pertumbuhan yang cerdas dan berkelanjutan — dari growth hacking bertarget hingga ekspansi pasar internasional — dengan fondasi keuangan bisnis kreatif yang sehat.
13
TeoriPraktik
Keuangan Bisnis Kreatif: Unit Economics, Runway & Strategi Pendanaan
Membangun literasi keuangan yang relevan untuk bisnis kreatif — dari unit economics hingga strategi pendanaan alternatif yang sesuai dengan karakteristik unik bisnis berbasis kreativitas.
Deskripsi Materi

Bisnis kreatif sering gagal bukan karena kurang kreatif, tetapi karena kurang memahami angka. Pertemuan ini membangun literasi keuangan bisnis yang praktis dan relevan untuk ekraf: bukan akuntansi kering, melainkan metrik yang benar-benar menentukan kesehatan bisnis kreatif. Dari unit economics (LTV, CAC, payback period), manajemen cash flow untuk bisnis musiman/proyek, hingga landscape pendanaan alternatif yang ramah ekraf.

Isi Konten
Unit economics: CAC, LTV, LTV:CAC ratio, payback period, gross margin
Cash flow management untuk bisnis proyek dan musiman
Runway & burn rate: berapa lama bisnis bisa bertahan?
Pricing strategy untuk produk kreatif: value-based vs. cost-plus
Bootstrapping vs. funding: kapan mencari modal eksternal?
Ekosistem pendanaan ekraf: Bekraf, LPDP, angel investor, VC lokal
Crowdfunding kreatif: Kickstarter, Indiegogo, Kitabisa, Wujudkan.com
Praktik: financial modeling 12 bulan untuk bisnis kreatif
🎯 Capaian: Peserta mampu menghitung unit economics bisnis kreatif mereka, membangun proyeksi cash flow 12 bulan, dan merancang strategi pendanaan yang sesuai dengan tahap dan karakter bisnis mereka.
Google Sheets Financial ModelUnit Economics CalculatorCarta (Cap Table)
14
LapanganStudio/Workshop
Go-to-Market & Ekspansi: Strategi Pemasaran Digital untuk Bisnis Kreatif Berkelanjutan
Merancang strategi masuk pasar yang efisien dan strategi ekspansi yang selaras dengan nilai keberlanjutan — dari growth hacking bertarget hingga ekspansi pasar ekspor ekraf.
Deskripsi Materi

Strategi go-to-market (GTM) yang tepat menentukan apakah produk kreatif brilian bisa menemukan audiensnya atau hilang tanpa jejak. Pertemuan ini membangun kemampuan merancang GTM yang efisien berbasis data — dari posisi pasar yang unik, pemilihan kanal distribusi yang tepat, hingga strategi konten yang membangun brand equity jangka panjang. Khusus untuk bisnis kreatif berkelanjutan: bagaimana mengkomunikasikan nilai sustainability tanpa terkesan menggurui.

Isi Konten
Go-to-Market strategy: segmentasi, targeting, positioning (STP) untuk ekraf
Growth loops vs. growth funnels: model pertumbuhan berbasis retensi
Content marketing untuk bisnis kreatif berkelanjutan: storytelling autentik
Community-led growth: membangun komunitas sebagai mesin distribusi
Mengkomunikasikan sustainability: value-based messaging vs. greenwashing
Ekspansi ke pasar global: platform ekraf internasional (Etsy, Faire, Tmall)
Brand partnerships dan kolaborasi strategis dalam ekosistem ekraf
Workshop: menyusun GTM plan 90 hari pertama
💡 Studi Kasus: "Aesop" — bagaimana brand kosmetik Australia membangun distribusi global premium hampir tanpa iklan konvensional, murni melalui experience design, community, dan storytelling yang konsisten selama 3 dekade.
🎯 Capaian: Peserta memiliki GTM Plan 90 hari yang konkret: positioning statement, 3 kanal prioritas, content calendar 1 bulan, dan 5 KPI pertumbuhan yang terukur — semua selaras dengan nilai keberlanjutan bisnis.
GTM CanvasSEMrush / AhrefsHootsuite / Buffer
VI
Modul Enam
Pertemuan 15–16 · Presentasi Final
Pitch Day & Evaluasi Akhir: Mempertanggungjawabkan Bisnis Kreatif Berkelanjutan
Puncak perjalanan kursus: presentasi business plan komprehensif kepada panel investor/evaluator, dan refleksi mendalam tentang perjalanan membangun bisnis yang profitable sekaligus purposeful.
15
Studio/WorkshopPitch
Menyusun Business Plan Kreatif Berkelanjutan & Latihan Pitch
Workshop intensif menyusun business plan final yang mengintegrasikan semua elemen kursus — model bisnis, keberlanjutan, keuangan, GTM — dalam satu narasi yang koheren dan meyakinkan.
Deskripsi Materi

Pertemuan pre-final ini adalah studio intensif penyusunan dan latihan pitch. Peserta menyatukan semua artefak yang telah dibangun sepanjang kursus — BMC, Value Proposition Canvas, Circular Economy Canvas, GTM Plan, Financial Model, Impact Measurement — ke dalam satu business plan yang koheren. Sesi diakhiri dengan latihan pitch berpasangan menggunakan format "investor simulation" untuk mempersiapkan Pitch Day final.

Isi Konten
Anatomi business plan kreatif: executive summary yang menangkap perhatian
Mengintegrasikan narasi keberlanjutan ke dalam business plan secara organik
Pitch deck structure: problem, solution, market, model, traction, team, ask
Financial storytelling: menyampaikan angka dengan narasi yang menarik
Impact slide: mengkomunikasikan dampak sosial-lingkungan ke investor
Teknik presentasi untuk kreator: authentic storytelling, tidak membosankan
Mengantisipasi pertanyaan sulit: due diligence simulation
Peer pitch practice: 5 menit pitch + 5 menit Q&A berpasangan
🎤 Pitch Deck Template: Maksimal 12 slide. Wajib ada: Problem (1), Solution (1), Market Size (1), Business Model (1), Sustainability Impact (1), Traction (1), Financial Projection (1), Team (1), Ask (1). Sisanya bebas.
🎯 Capaian: Setiap peserta memiliki business plan final lengkap dan pitch deck yang siap dipresentasikan ke panel, telah melalui minimal 2 putaran latihan dan revisi berbasis feedback.
Canva Pitch DeckNotion (Business Plan)Loom (Record Practice)
16
EvaluasiPitch
Pitch Day Final — "Creative Economy Demo Day": Presentasi kepada Panel & Ekosistem
Puncak kursus: presentasi business plan bisnis kreatif berkelanjutan kepada panel investor, praktisi ekraf, dan komunitas — sebagai uji nyata sekaligus peluncuran perjalanan bisnis sesungguhnya.
Deskripsi Materi

Creative Economy Demo Day adalah penutup kursus yang dirancang menyerupai lingkungan nyata: panel evaluator terdiri dari fasilitator, praktisi ekraf aktif, investor impact, dan jika memungkinkan representasi media ekraf. Setiap peserta mempresentasikan business plan mereka dalam format pitch investasi formal, lalu menjalani sesi tanya jawab kritis. Bukan sekadar penilaian akademik — ini adalah simulasi nyata dari perjalanan yang akan mereka jalani setelah kursus.

Komponen Evaluasi Final
Kelayakan Model Bisnis (25%): kohesi BMC, validasi pasar, unit economics
Integrasi Keberlanjutan (20%): kedalaman dan autentisitas elemen ESG/SDGs/circular
Fondasi Ekraf & Kearifan Lokal (15%): diferensiasi berbasis identitas kreatif
Proyeksi Keuangan & Kelayakan (20%): realisme, unit economics, strategi pendanaan
Kualitas Pitch & Respons Panel (15%): storytelling, data, kemampuan menjawab
Portofolio Proses & Iterasi (5%): dokumentasi perjalanan dari P1 sampai P16
🎤 Format Demo Day: 10 menit pitch + 10 menit Q&A panel + 5 menit peer appreciation. Diakhiri dengan "Sustainability Impact Award" untuk bisnis dengan dimensi keberlanjutan paling kuat, dipilih oleh panel eksternal.
🌱 Setelah Demo Day: Setiap peserta menerima written feedback dari panel (bukan sekadar nilai), dan diundang ke alumni network ekraf yang terhubung dengan mentor, investor, dan komunitas bisnis berkelanjutan.
🎯 Capaian Akhir Kursus: Peserta memiliki business plan bisnis kreatif berkelanjutan yang komprehensif, telah melalui pressure test nyata dari panel berpengalaman, dan siap memulai atau mengakselerasi perjalanan bisnis mereka dengan fondasi ekraf, keberlanjutan, dan literasi bisnis yang kokoh.